Rasanya sama, bahkan lebih.

Perasaan ini muncul lagi, perasaan yang kurasakan kira-kira enam atau tujuh tahun yang lalu. Rasa hancur sehancur-hancurnya, perasaan yang melemahkan tubuh, pikiran, meredupkan semangat, bahkan aku serasa kehilangan duniaku. Enam atau tujuh tahun yang lalu, setelah aku sembuh dari rasa sakit itu, aku pun berkata pada diriku, mungkin berjanji, bahwa aku tidak akan pernah mau merasakan pahit itu lagi. Lima enam tahun berlalu aku berhasil menjalani hidupku tanpa rasa itu. Tapi kini hal itu datang lagi, rasa yang sama, bahkan lebih. Reaksi tubuh atas sakit itu pun sama seperti dulu, bahkan lebih. Aku tidak pernah membayangkan, dan tidak pernah mau merasakannya lagi, namun kini aku merasakannya lagi, bahkan lebih. Enam atau tujuh tahun yang lalu aku merasa hancur sekali, dan sekarang aku merasa sangat hancur sekali. 

Saat itu, aku tertolong dengan kondisi yang memaksaku untuk tetap bertahan menjalani kehidupan dengan normal. Aku harus sekolah saat itu, tidak mungkin aku menangis di sekolah, walaupun akhirnya aku menangis. Aku bertemu teman-teman yang selalu penuh dengan canda tawa, berbagai aktivitas dan kegiatan di sekolah juga membantuku pulih. Saat ini aku sudah lulus kuliah, aku bukan belum bekerja, aku bekerja dengan fleksibel di rumah. Teman-teman juga punya kegiatan dan urusannya masing-masing. Mungkin hal ini yang membuat rasanya lebih parah, tidak ada kondisi yang memaksaku untuk bertingkah normal. Hariku berjalan sungguh lambat, dipenuhi awan kelam dan hujan air mata. Pikiranku hanya berfokus pada satu hal, pada satu jiwa. Tubuh bereaksi di luar batas wajar, menangis, menjerit, meronta, melukai, dan segala hal yang bukan wajar, tubuh ini di luar kendali, pikiran ini di luar kendali, karena hati seakan mengendalikan seluruhnya, bahkan duniaku.

Aku tahu ini bodoh, enam atau tujuh tahun yang lalu juga aku tahu ini bodoh. Tapi emosi berada di luar akal sehat. Kepedihan dan keperihan mengalahkan rasa sakit goresan-goresan pada tubuh ini. Ketika tubuh ini merasa sangat kuat untuk menghancurkan segalanya dan setelah itu melemah selemah-lemahnya bagaikan mati. 

Ya, sudah lama aku tidak membuat tulisan seperti ini. Aku hanya tidak tahu kemana aku harus mengungkapkannya, dan aku tidak mau. Orang lain hanya bisa menilai dengan logika dan akal sehat, hanya aku sendiri yang tahu rasanya. Akupun sedang tidak butuh nasihat, simpati, bahkan empati orang lain. Enam atau tujuh tahun yang lalu aku berhasil melewatinya, kini aku pun pasti berhasil melewatinya. Melewati fase yang sangat kelam dalam hidupku, siklus yang paling menyedihkan dalam kisahku, dan dia.

Enam atau tujuh tahun yang lalu, penyembuhku adalah waktu, dalam enam atau tujuh bulan, aku pulih, mungkin sekarang obatku juga waktu, mungkin waktunya sama, atau bahkan lebih. Dan kemudian aku akan kembali menjalani kehidupanku seperti biasa, dengan senyum, tawa, dan janji bahwa aku tidak akan pernah mau merasakan hal ini lagi. 

Semoga tulisan seperti ini tidak akan ada lagi di blog ini.


Don't trust too much
Don't hope too much
Don't love too much
Because that too much
Can hurt you so much

This entry was posted on Thursday, November 12, 2015. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply