Trip to Pulau Pari & Pulau Lancang

Hello People
Setelah lama menghilang dari dunia blogger, akhirnya gue kembali dan akan memulai lembaran baru dengan sebuah informasi buat para backpackers yang mau trip ke Kepulauan Seribu. Check it out guys!

Ini adalah kali ketiga gue ke Kepulauan Seribu ala backpacker, setelah trip pertama ke Pulau Untung Jawa, dan trip kedua ke Pulau Pari, kali ini gue kembali ke Pulau Pari tapi ditambah bonus ke Pulau Lancang. Buat kalian yang ingin berwisata ke Kepulauan Seribu tanpa bantuan travel/tour, ini beberapa info dari pengalaman gue. Kali ini gue pergi bersama dua sahabat gue Jessalyn dan Nadia. 

Pagi itu pukul 05.30, kami berangkat menuju Pelabuhan Kali Adem yang terletak di dekat Pelabuhan Muara Angke, Pelabuhan Kali Adem ini adalah pelabuhan baru, dan jauh lebih bersih dan nyaman dibanding Pelabuhan Muara Angke yang bau amis dan banyak sampah. TAPI TERNYATA, tidak ada tanda-tanda kehidupan di Pelabuhan Kali Adem, setelah gue googling ternyata :

Pelabuhan Kali Adem berhenti beroperasi mulai Desember 2014, dikarenakan adanya masalah yang terkait dengan anggaran. Pelabuhan ini RENCANANYA akan beroperasi kembali April 2015. 

Jadi kami balik lagi menuju Pelabuhan Muara Angke, nah kalo mau pergi dari sini, langsung aja tanya-tanya ke orang-orang yang ada di dekat pom bensin pelabuhan, biasanya ada rombongan yang mau trip ke pulau pake tour, nah kita ikutan aja nebeng bareng mereka. Tarif kapal-nya Rp 40.000, kalo gak ada rombongan ya coba tanya-tanya aja deh ke orang-orang disitu, normalnya sih ada kok perahu yang mau berangkat ke Pulau-Pulau yang udah eksis, misalnya Pulau Pari, Untung Jawa, Tidung, Pramuka, Harapan, dsb, yang pasti dateng pagi-pagi aja ke sini sebelum jam 8 pagi. Alternatif lainnya bisa naik Kapal di Marina Ancol, tarifnya lebih mahal sekitar Rp. 150.000 karena boat nya bagus dan lebih cepat, atau yang berdomisili di Tangerang bisa juga berangkat dari pelabuhan yang di Tangerang, kalo gak salah namanya Tanjung Kait, ada juga Rawa Saban atau apalah, silahkan googling sendiri ya :))

Perjalanan dari Muara Angke menuju Pulau Pari kira-kira 1,5 jam, kalo dari Marina lebih cepet, palingan 1 Jam soalnya perahunya lebih kenceng jalannya. Gue pribadi prefer naik kapal di Muara Angke, karena kapal yang dari Marina ngebut banget dan bikin mual, buat yang mabok laut jangan coba-coba naik dari yang Ancol. Fix muntah.

Kapal Penumpang dari Muara Angke
sumber : google.com

Keadaan dalam kapal, karena weekdays jadi sepi, j
angan harap kosong gini kalo weekend
sumber : doc. pribadi

Kapal Penumpang dari Muara Angke (FYI aja)
sumber : google.com


Lanjut ke info penginapan. Buat backpacker, gausa khawatir masalah penginapan, di Pulau Pari rata-rata penduduknya menyewakan penginapan, jadi cari aja Bapak-bapak/ Ibu-ibu/ Abang-abang ato siapa aja yang lagi nongkrong-nongkrong asik di sekitar situ, mereka pasti akan membantu kita untuk menyewa penginapan, warga Pulau Pari ramah-ramah dan helpful banget deh. Kalo lo terlihat seperti orang yang kebingungan pasti mereka akan segera menawarkan bantuan. Penginapan di sini berwujud homestay, tapi udah bagus banget gitu pake AC, kamar mandinya pun bersih, kayak kos-kosan ajalah gitu. Untuk harga mulai dari 250.000 - 350.000 tergantung lokasi dan fasilitasnya. Gue beruntung banget dapet penginapan yang baru dibangun dan berlokasi dipinggir pantai, jadi begitu buka pintu langsung bisa liat pasir, laut, perahu, dan langit yang indah, harganya 300.000/ malam. Kamarnya super luas, bisa buat 8 orang kalo di muat-muatin, ada TV, AC, shower, closet duduk. Super nyaman! recommended deh!

sumber : doc. pribadi

sumber : doc. pribadi

begitu buka pintu view nya langsung pantai :))
sumber : doc. pribadi

Wisata di Pulau Pari adalah snorkeling, main sepeda keliling pulau, dan Pantai Pasir Perawan. Untuk snoekeling, tarif sewa pelampung, snorkel, dan kaki katak Rp 35.000, yang cukup mahal adalah sewa perahu untuk membawa kita ke spot snorkeling, yakni sekitar Rp 300.000/ perahu, kalo rame-rame jadi murah, kalo cuma pergi berdua atau bertiga yaudah nasib. Sayangnya waktu itu kami tidak sempat mencoba snorkeling dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan, karena kami harus pergi ke pulau lainnya. Untuk tarif sewa sepeda Rp 15.000/ per-sepeda, kayaknya terserah deh berapa lama, karena waktu itu gue nyewa cuma sekitar 1 jam, jadi kata ibunya bayar goceng aja :) Biasanya sepeda digunakan kalo kita mau pergi ke Pantai Pasir Perawan. sebenernya bisa jalan kaki, tapi ya untuk hemat waktu dan tenaga, lebih baik naik sepeda, sekalian berkeliling pulau.

Waktu gue ke sana, pantainya lagi surut, dan awannya mendung. Padahal kalo lagi cerah dan pasang, keren banget loh, bawaannya pengen nyebur.


Pantai Pasir Perawan yang udah mulai gak perawan
sumber : doc. pribadi

biar pasang masih ada spot buat berendam-berendam cantik kok
sumber : doc. pribadi

Dari Pulau Pari, kita bisa nyewa perahu nelayan buat menuju pulau-pulau lain yang ada di sekitar Pulau Pari, di sini gak ada loket-loketan, jadi semuanya sistem nego-nego aja. Waktu itu kami ditawari harga Rp 600.000 buat menuju menuju Pulau Lancang-Pulau Pari atau sebaliknya, tentu saja kami menolak karena itu cukup mahal untuk budget backpacker. Sebenarnya ada kapal yang langsung menuju Pulau Lancang, yakni dari Pelabuhan Kali Adem, tapi karena pelabuhannya tutup, jadi tidak ada akses langsung menuju Pulau Lancang kalo dari Jakarta, jadi harus transit dulu ke Pulau-pulau yang cukup ramai wisatawan.

KEBETULAN, lagi ada rombongan Bapak-bapak Satuan Polisi Pramong Praja atau yang kita kenal dengan sebutan SATPOL PP yang akan menuju kelurahan di Pulau Lancang untuk rapat anggaran, eh kami ditawarin buat nebeng ke sana, jadinya gratis deh!  Meskipun serasa lagi "diciduk" SATPOL PP hiks, yang penting gratis :)) Tapi, Bapak-bapak ini hanya pergi ke Pulau Lancang, dan tidak kembali lagi ke Pulau Pari, dari Pulau Lancang juga tidak ada akses ke Jakarta, hanya bisa ke Tangerang, kami pun berpikir keras bagaimana cara kembali ke Pulau Pari (Lagian udah nyewa homestay dan barang-barang udah ditaro di Pulau Pari). KEBETULAN lagi, Pak RW Pulau Pari lagi rapat di Pulau Lancang, dan sore hari Beliau kembali ke Pulau Pari, jadi lagi-lagi kami nebeng perahu GRATIS! Terima kasih Bapak-bapak SATPOL PP dan PAK RW Pulau Pari yang baik hati :))

Sayangnya, informasi di google tentang Pulau Lancang sepertinya tidak cukup update, menurut warga, Pulau Lancang jarang sekali dikunjungi wisatawan. Dari info yang gue dapatkan di google, Pulau ini memiliki wisata memancing, jembatan pelangi, pantai perawan, snorkeling, dsb. Tapi kenyataannya? Tidak ada. Pulau ini sepi sekali, hanya ada warga yang sedang duduk-duduk menghabiskan harinya, nelayan yang akan pergi berlayar, anak-anak kecil yang sedang bermain seusai sekolah, tempat pemakaman umum yang biayanya 60 ribu/ 3 tahun, dan hutan mangrove yang terletak di dalam Pulau ini, perjalanan menuju hutan mangrove cukup sulit, karena harus melewatu semacam semak belukar apalah itu, jadi kami meminta bantuan salah seorang warga untuk memandu menuju hutan mangrove, kalo pergi sendiri rasanya pasti tidak tahu kemana arahnya, lagipula ini juga bukan tempat yang tepat untuk berwisata, tujuan kami saat itu adalah untuk survey tugas akhir, jadi memang bukan untuk berwisata. Mungkin dulunya Pulau Lancang ramai, tapi karena akses dari Pelabuhan Kali Adem ditutup, Pulau ini jadi sepi wisatawan (Kali loh, gue juga gak tau). Padahal jika dikelola dengan baik, Pulau ini cukup berpotensi untuk dijadikan tempat wisata, misalnya dengan memperbaiki akses menuju hutan mangrove untuk para wisatawan (sok ide banget gue).

Naik kapal kecil bersama SATPOL PP
sumber : doc. pribadi

Dermaga Pulau Lancang
sumber : doc. pribadi

Perjalanan yang cukup sulit menuju pantai bakau
sumber : doc. pribadi

Pantai Mangrove/Bakau
sumber : doc. pribadi


Pantai Pulau Lancang
sumber : doc. pribadi

Balik ke Pulau Pari bersama rombongan Pak RW
sumber : doc. pribadi


Jadi intinya, kalo tujuan utamanya untuk wisata, tidak direkomendasikan ke Pulau Lancang, karena tdak ada sarana wisatanya, kalo buat penelitian, survey, kepo, ya bolehlah ke Pulau Lancang :)

Setelah kembali ke Pulau Pari, kami beristirahat, dan keesokan paginya, ketika membuka pintu kamar, alam menyajikan kami pemandangan yang indah, dan udara khas pantai. Setelah itu kembali ke Jakarta dan berakhirlah 2 hari menjadi anak Pulau :))

sunrise di Pulau pari
sumber : doc. pribadi

Pesan Moral :
Let's save our nature. Jangan buang sampah sembarangan, pantai-pantai indah ini makin lama makin kotor karena banyak wisatawan yang membuang sampah sembarangan. Laut makin lama tidak terlihat seperti laut melainkan kali. Kalo bukan kita, siapa lagi? Bapak-bapak rombongan RW yang merupakan warga dari Pulau Pari saja membuang sampah seenaknya ke laut, padahal bukankah seharusnya mereka menjaga tempat yang merupakan sumber kehidupan mereka sendiri? Saya cukup kecewa melihat mereka membuang bungkus rokok tanpa berdosa ke laut. Jadi, mulailah dari diri kita, supaya nanti anak cucu kita masih bisa menikmati keindahan Kepulauan Seribu, dan tempat ini tetap eksis, bukan sekedar sejarah tempat yang pernah ramai dikunjungi wisatawan :)

bijak mode : on

This entry was posted on Friday, March 13, 2015 and is filed under ,,,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

8 Responses to “Trip to Pulau Pari & Pulau Lancang”

  1. Boleh minta cp untuk penginapannya? Tq

    ReplyDelete
  2. Boleh minta cp untuk penginapannya? Tq

    ReplyDelete
  3. Kak di pulau pari adakah penginapan di pinggir pantai sprti itu yang berbentuk gubug/cottage ?

    Trima kasih...

    ReplyDelete
  4. malam sis untuk cp penginapan di pulau pari ada tak? soalnya yg cp pak taufik di atas gk bisa :(

    thank

    ReplyDelete
    Replies
    1. Langsung saja ke Pulau Pari, nanti di sana banyak warga sekitar yang akan menawarkan penginapan kok :) Rangenya mulai dari 250-350ribu

      Delete