Arus


Selama ini ternyata aku hidup di dalam suatu lingkaran yang sangat sempit, lingkaran yang nyaman, dimana aku hidup bersama hal-hal yang bertindak pada taraf wajarnya. Aku belum menatap dan memperhatikan apa yang ada di luar lingkaran, dan kini aku berada di luar lingkaran tersebut. 

Dari kecil, aku dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang mengajarkanku akan hal-hal baik, di sekolahkan di sekolah yang menjunjung tinggi moral kekristenan, aku hidup bersama teman-teman yang "lurus-lurus" saja, aku menjalani kegiatan di gereja dengan komunitas yang positif, semua yang aku jalani selama 18 tahun hidupku membentuk aku menjadi pribadi yang normal, wajar, dan lurus.

Dalam dua setengah tahun terakhir ini, aku menginjakkan kaki di dunia yang sesungguhnya, dimana aku harus keluar dari lingkaran tempat dimana selama ini aku berpijak. Mengenal orang-orang baru, benda-benda baru, dan segala sesuatu yang baru lainnya. Aku kaget, aku takut, karena semua yang aku lihat bukan seperti yang aku tahu selama ini, bahkan jauh dari apa yang aku tahu, segala sesuatu yang tak pernah aku pikirkan bahkan terlintas diotakku sebelumnya.

Pada awalnya aku kaget dan menangis, saat tahu seorang terdekatku tidak seperti yang aku pikirkan, tidak selugu kelihatannya. Keadaan dan lingkungan terus mencekokiku dengan ketidakwajaran yang sebenarnya wajar di luar sana hanya tidak wajar bagiku, orang terdekat lainnya mulai terkuak kejanggalannya, dan begitu seterusnya sampai semua orang yang ada di sekelilingku bukan seperti yang aku bayangkan. Aku kecewa. Aku mulai bertanya, apakah aku yang selama ini tidak wajar? apakah aku yang janggal?

Keadaan membawaku turut serta menjadi seseorang yang "normal" di lingkunganku, mulai dari melihat, memikirkan, hingga akhirnya aku mencoba apa yang tidak pernah aku coba saat aku hidup dalam lingkaranku dulu. Aku beruntung, karena aku tidak larut dalam hal-hal tersebut, aku beruntung, karena aku tidak merasakan kenikmatan dari hal-hal tersebut, aku beruntung karena aku memutuskan untuk mencoba semuanya hanya sekali saja dan tidak lagi. Aku beruntung, karena disekelilingku masih hidup orang-orang yang selalu mengingatkanku untuk selalu berjalan lurus dan tidak berbelok terlalu jauh jika ingin sekedar berjalan-jalan. 

Aku belajar, bagaimana harus bersikap dalam dunia yang tidak ramah ini, belajar bagaimana hidup seimbang antara "nakal" namun tetap bisa menjadi terang, belajar waspada terhadap semua orang, karena semua orang memakai topeng, ya, semua orang, jangan munafik, kamu pun memakai topeng, begitu juga aku. Belajar membuka mata lebar-lebar namun memakai kacamata agar terlindung dari "debu", belajar membuka telinga untuk mendengarkan melodi-melodi indah, sendu, serta nada-nada sumbang. Belajar melawan arus, untuk tetap berjalan masuk ketika semua orang berjalan keluar.


"I am good, but not an angel. I do sin, but I am not the devil"  ― Marilyn Monroe


This entry was posted on Saturday, November 23, 2013 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

One Response to “Arus”

  1. bagus, fer! kadang emang menakutkan untuk keluar dari zona nyaman kita. But there is an open worldwide out there waiting for you!

    ReplyDelete