Bocah Penjual Gorengan

Pagi ini aku pergi ke daerah Ciawi, Desa Pancawati untuk survey lokasi camp yang akan diadakan Agustus nanti, perjalanan sangat melelahkan karena macet, hampir sekitar 3 jam akhirnya kami sampai di lokasi tujuan.

Sampai di sana, perut terasa lapar sekali, tiba-tiba perhatianku tertuju pada seorang anak kecil yang membawa nampan besar dan rantang es, sepertinya ia menjual makanan pikirku. Aku menghampirinya "Jual apa dek?" "Gorengan sama es mambo" jawabnya dengan logat Sunda. Akhirnya aku membeli tempe gorengnya karena lapar sekali, tempe goreng yang dijual anak itu penampakannya sangat tidak meyakinkan, terlihat seperti tempe goreng kemarin yang digoreng ulang, tapi yasudahlah karena aku lapar rasanya jadi enak, bahkan aku beli lagi beserta es mambo 2 buah. "Berapa duit dek?" "satunya lima ratus teh." katanya. Murah sekali pikirku, di kampusku es mambo yang lebih kecil dari yang dijual anak itu harganya Rp.2000 dan tempe goreng harganya Rp.3000 (ini sih agak gak wajar).

Sambil menunggu pemandu lokasi datang, aku menikmati es mambo sambil duduk di sebelah anak tadi, lalu aku mulai ajak ngobrol anak tersebut, dia sangat polos dan kelihatan sangat pendiam. Berikut kira-kira percakapan aku dengan anak itu.

"Kamu kalo sama orang Jakarta jualnya jangan lima ratus, kemurahan. Jual seribu aja lain kali."
"Ih gak boleh atuh teh, itu mah dosa namanya."
"lah? kok dosa? kan kamu jualan, gak dosa dong."
"Itu mah namanya bohong teh, kalo bohong itu dosa. Kalo jual ke orang lain lima ratus ya lima ratus, gak boleh atuh jual dilebih-lebihin. Dosa "
"Kalo di Jakarta ini mah es mambo rp.2000 harganya"
"yah ini kan di kampung teh. Lagian di Al-quran juga ajarin kalo bohong itu dosa."
(kesannya gue iblis yang ngajarin anak kecil bohong, padahal gue ngajarin strategi marketing)

yaudahlah saya menyerah, ini anak kekeuh dengan pendiriannya, namun aku tambah tertarik ngobrol dengan anak ini, dari yang terlihat pendiam ternyata dia bisa bicara banyak dan punya pendirian yang kuat dengan harga lima ratus. Aku melanjutkan percakapan.

"Nama kamu siapa?"
"Ipan."
"oh, Ipan gak sekolah?"
"ngga, lagi libur ada rapat."
"umur berapa?"
"sembilan"

Tiba-tiba temanku yang bernama Alvin nyeletuk, 
"emak sehat pan?"
"Sehat, Mak Iyem ada di rumah"

"Ini emak yang goreng?" kataku
"iya, Mak Iyem yang goreng, ipan yang jualan keliling."

Aku mulai penasaran tentang Mak Iyem (kepo banget)
"Oh Mak Iyem gak ikut jualan juga?"
"Ngga.."

dan tiba-tiba si Ipan curhat colongan... Aku cukup kaget tiba-tiba ia bercertita panjang lebar.

"Mak Iyem teh bukan siapa-siapa, Mak Iyem ngerawat Ipan dari kecil, sekolain Ipan. Kalo bapak Ipan ada di Jawa uda nikah lagi, kalo Emak Ipan udah gila gak tau ada di mana, katanya dulu Ipan di pukul pake bedong, Ipan udah gak pernah ketemu lagi, biar gila juga kan tetep mak Ipan ...." (percakapan ini dia lanjutkan dengan bahasa sunda yang sangat cepat diucapkan, udah ga ngerti lagi dia ngomong apa)

"Oh.. Mak Iyem berarti baik dong ya pan. Bapak gak pernah ke sini?"
"Ngga udah lama banget ga ke sini, Ipan kangen sama bapak"
"Yaudah berarti Ipan sekolah yang bener biar sukses ya pan. Di Sekolah jualan juga?"
"Iya jualan di sekolah. Ipan kadang teh malu di ejek-ejekin sama temen-temen, katanya eh si Ipan tukang gorengan nih, terus temen-temen juga suka ajakin ngerokok, ajakin nonton yang ngga-ngga, tapi Ipan gak mau, ga boleh itu mah"
"Ya Ipan gausah malu, kan jualannya halal, ngapain malu Pan"

Aku sangat antusias mendengarkan cerita si Ipan dengan logat Sundanya, bahkan campur bahasa Sunda yang makin lama jadi bahasa Sunda semua. Tapi aku tak bisa berlama-lama ngobrol sama Ipan karena pemandu lokasi sudah tiba dan aku harus pergi survey lokasi, aku masih ingin ngobrol sama Ipan, terakhir aku hanya sempet bilang "Yaudah aku pergi dulu ya, Ipan belajar yang bener deh ya sekola yang bener"

Si Ipan. Anak kecil yang terlihat pendiam, namun ternyata mempunyai hati yang tulus juga polos dan lugu.
Bahkan dia sempat memanggilku hanya untuk bilang begini. "Teh ! seletingnya kebuka"
(sumpah suram banget, memalukan T_T polos banget sih lu pan)

Aku berharap, saat bulan Agustus nanti aku ke sini lagi, aku akan ketemu Ipan lagi, aku mau bawa hadiah lebaran buat Ipan entah apa itu. Aku percaya semua ini bukan kebetulan ketemu Ipan, dari sini aku belajar dari seorang anak kecil, di mana saat ini kita hidup di kota yang sangat mengutamakan materi, sementara di desa ini ada seorang anak yang masih lugu dan tidak berpikiran materialistis, aku berpikir andai saja semua orang punya pikiran kayak si Ipan , kemudian di saat banyak orang mengejeknnya, Ipan tetap survive berjualan untuk membantu Mak Iyem yang selama ini merawatnya, belajar untuk tidak terpengaruh dengan pergaulan yang buruk, berani berkata tidak untuk hal yang tidak benar, seperti Ipan yang menolak saat ditawari rokok oleh teman-temannya, belajar tentang kerasnya kehidupan juga ketulusan hati dari Ipan yang tidak tinggal lagi bersama orang tuanya, bahkan tidak pernah bertemu lagi, namun iya tetap berkata iya rindu dengan bapaknya, yang jelas-jelas menurutku sudah menelantarkannya. Dari percakapan singkat dengan Ipan, ternyata banyak sekali yang bisa kuambil hikmahnya. Semoga Agustus nanti kita ketemu lagi ya Pan !

(Lupa foto si Ipan, gara-gara buru-buru mau survey lokasi)

Pancawati, Ciawi.

This entry was posted on Saturday, June 9, 2012 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

One Response to “Bocah Penjual Gorengan”