puisi

Peluru ke Tiga

inilah puncak kelelahanku
disaat air mata tak mampu lagi mengalir
dan kapasitas hati tak cukup lagi menampung amarah ini

hanya tanganku yang masih utuh bergerak
walaupun bergetar.
untuk menulis tentang sebuah perasaan
yang tak mampu lagi diluapkan air mata
bahkan diungkapkan dengan kata-kata

jantung ini sekarang berdetak sangat cepat
kasihan kan ? dia pasti lelah.

aku tahu aku mengetahuinya
hanya aku berpura-pura tidak tahu kalau aku tahu

kini aku benci semua tawamu
berkali-kali tawamu itu palsu
kau simpan peluru itu
dan sekarang kau lontarkan kepadaku

dua kali kubalut luka karena peluru itu
kini semua pulih seperti utuh
namun apa?
kau lontarkan lagi peluru ke tiga
di bekas luka yang sama

kini hati itu terluka parah
ia hanya bisa untuk terdiam
menunggu saatnya tiba.



This entry was posted on Friday, December 2, 2011 and is filed under ,,,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

One Response to “puisi”